Sedikit teringat tentang masa lalu. Membayangkan sohib-sohib waktu SMA dulu. Itulah jaman ‘keemasan’ku. Bercanda bersama, belajar bersama dan berjuang bersama. Benar-benar mengenal apa itu yang dinamakan persaudaraan, persahabatan. Agak mellow juga rasanya. Sudah 2 tahun berpisah dengan sahabat satu gedung induk itu. Mereka sudah mempunyai jalan untuk menggapai cita-citanya masing-masing.

upgrading di kaliurangSambil ditemani lagunya Depapepe, instrumental gitar klasik yang menambah suasana hati semakin dalam merasuk kedalam kemellowan, dan akhirnya jadi lebay dan lulebay (baca: lullaby), berpikir.. diriku masih punya sahabat-sahabat itu. Setidaknya, mereka belum menikah. Masih bisa diajak main-main, berpetualang, mencari pengalaman bersama. Masih sempat bertemu bukan dalam rangka pertemuan sesama jomblo lho (high quality jomblo tentunya), namun untuk berbagi hal-hal yang baru karena lingkungan yang sudah berbeda.
Diriku membayangkan, ketika mereka sudah menikah kelak atau aku yang sudah menikah duluan (hehehe piss bro!), mungkin sudah tidak sempat untuk berbaur lagi seperti SMA dulu. Selain sudah punya ‘teman’ berbaur sendiri, tanggung jawab keluarga sudah bertambah. Sudah harus memikirkan yang lain. Beban dan amanah tidak hanya sebagai pemuda (atau pemudi) biasa. Namun juga, sebagai suami (atau istri) atau ayah (atau ibu).
Yah, setidaknya kalian belum menikah. Masih bisa berbagi suka dan duka bersama-sama kalian. Kalau kata konco kenthelku, Mas Luqman, “kehilangan menyenangkan”. Menikah membuat seseorang merasakan yang namanya ‘kehilangan’. Gampangnya, apabila sahabat yang selalu ada disamping kita menikah, maka dirikita akan merasakan sedikit (atau banyak) kehilangan. Tetapi itu ‘menyenangkan’, karena dirinya sudah ada pendamping hidupnya. Sudah menemukan seseorang yang akan menemaninya dalam bahtera yang selalu diidam-idamkan manusia normal. Kehilangan namun menyenangkan.
Setidaknya, kalian belum menikah. Masih bisa menikmati manis getirnya persahabatan. Bukannya kalo sudah menikah itu persahabatan tidak berarti lagi. Tapi, yah..ntahlah diriku belum menyempurnakan separuh agama. Suatu saat nanti, kita akan menjalani hidup masing-masing. Semoga persahabatan dan persaudaraan ini akan terus terikat erat sampai ujung hayat.