The moment you feel shame about yourself

feel shame about yourself

from unsplash.com

Okay, I won’t write this blogpost with English. So,

Barusan saya diwawancarai oleh seorang Chief Technology Officer (CTO) sebuah start-up asli asal Indonesia yang pegawainya berada di banyak negara. Pertamanya, CEO sekaligus foundernya mengundang saya untuk ketemu dan menyampaikan bahwa mereka membutuhkan seorang Front-End Engineer (FEE). Lalu disepakatilah waktu tadi untuk mewawancarai saya. Lalu ada sebuah pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir, apa saja yang telah saya lakukan dalam kurun waktu 3-5 tahun ini setelah saya lulus kuliah. Pertanyaanya,

have you worked on a project (be it professional/personal) that you’re actually proud of?

Dan saya berpikir, project apa yang telah saya lakukan, yang benar-benar bagus untuk ditunjukkan, terutama saya (yang akan masuk) sebagai FEE?

Lama saya berpikir, dan akhirnya saya memutuskan untuk menjawab

No. Actually. I don’t.

Tentu, dengan jawaban itu telak akan membuat saya tidak diterima. Tapi, ini memang keputusan saya. Beberapa alasan yang muncul di benak saya adalah:

  1. Saya memang banyak mengerjakan project, tapi tidak fokus dalam satu keahlian atau bidang.
  2. Saya memang banyak mengerjakan project, tapi mungkin saya tidak mengerjakannya dengan sepenuh hati.
  3. Saya memang banyak mengerjakan project, tapi sangat jarang merencanakan project dengan matang pada satu tim.
  4. Saya masih belajar.

Ya, saya jadi malu. Malu pada diri saya sendiri. Malu pada sang CEO yang sudah merekomendasikan saya ke CTO-nya. Tapi menurut saya, seperti ini lebih baik daripada saya membual dan membangga-banggakan diri agar diterima. Dari titik ini, saya jadi punya pengalaman. Saya mendapatkan pelajaran berharga.

  1. Saya harus mengevaluasi diri lagi.
  2. Saya masih harus banyak belajar, banyak sekali. Apalagi yang akan dijadikan fokus dan belajar merencanakan, mengelola dan mengevaluasi.
  3. Saya harus menemukan komunitas untuk belajar satu hal yang ingin menjadi fokus.
  4. Saya harus berkolaborasi denga orang yang satu visi.
  5. Saya tidak boleh malas. Karena, malas itu membunuh.

Begitu saja. Walaupun saya tuliskan dalam kata ganti orang pertama, semoga bisa memberi manfaat kepada khalayak. Terima kasih.

Ubuntu Studio on T400

Bismillah..

Di bulan Ramadhan ini alhamdulillah, saya dapat banyak sekali hal-hal yang baru. Mulai dari dapet ilmu baru, WordPress, hingga dapat ‘senjata’ baru. ‘Senjata’ ini menggantikan Acer lama saya yang sudah berusia 8 tahun. Sudah sepuh untuk ukuran laptop.

Walaupun ‘senjata’ ini tidak juga baru. Ini laptop mantan (baca: bekas) yang saya beli lewat situs jual-beli online bukalapak. Bermodalkan review toko, review laptop dan googling review dari website jual-beli online tersebut, saya memberanikan diri untuk membeli sebuah laptop jadul yang cukup bandel di zamannya. Thinkpad T400.

WP_20150711_001

Alhamdulillah, barang sampai sehari setelah pesan. Walaupun pada situsnya teretulis pengiriman tiga hari. Mungkin karena saking banyaknya pengiriman dari Jakarta ke Jogja, sehingga jadi ikut ‘nderek mulyo’. Packaging yang rapi dan bonus tas laptop. Walaupun isi dari paketnya hanya laptop, tas dan charger. Tanpa manual atau brosur-brosur pendukung lain. Yah, namanya juga laptop mantan. Sebenarnya saya juga sudah sempat bikin video unboxingnya, tapi belum sempat edit.

Setelah buka sana-sini paketnya, akhirnya terlihat dicoba. Hidupkan powernya dan jreng.. laptop menyala. Ternyata sudah terinstall Windows 7 Pro 64 bit di laptop ini. Tapi karena kebutuhannya dan pengennya pakai linux, akhirnya di install lah si T400 dengan Ubuntu Studio 15.04. Ternyata mantab. Mulus.

ubuntustudio-1Saya memilih Ubuntu Studio juga karena sudah banyak software grafis yang terinstall. Inkscape, GIMP, blender, hingga software untuk color picker. Tapi memang di Ubuntu Studio belum ada localhost atau software untuk pemrograman khususnya web. Ya sebenarnya tinggal install saja, sudo apt-get install tunggu beberapa menit, selesai. Hehe.

Oh iya, di Ubuntu Studio juga saya sudah coba Steam. Berjalan dengan baik. Saya memainkan Risk of Rain di sini lancar.

ubuntustudio-2Sepertinya semuanya lancar dan baik-baik saja. Semoga ke depannya jadi semakin produktif dan bermanfaat dengan senjata baru ini. Amin🙂

Update

Setelah kemarin berhasil menjalankan Risk of Rain, saya coba lagi ternyata error. Error muncul seperti ini:

RiskOfRain_error

Train Fever juga tidak bisa dijalankan. Sepertinya karena masalah Graphic Card yang terlalu jadul. Jadi ya, ternyata laptop ini tidak cocok untuk memainkan game di steam.

5 Software Web Development yang Layak Dipertimbangkan

Web. Tentu sudah pada tahu apa itu Web. Seiring berkembangnya web, alat atau software atau bahasa yang lebih kerennya IDE (Integrated Development Environment) juga berkembang. Berikut IDE yang layak dicoba buat kamu para kreator web yang bosan dengan yang sering digunakan.

  1. Visual Studio

    Berjalan di sistem operasi Windows (7 ke atas). Software ini masih sering saya gunakan untuk mengembangkan web. Kekurangannya hanya satu: Tidak diperuntukkan bagi pengembang PHP. Plugin untuk mengembangkan PHP ada. Tapi berbayar.

    https://www.visualstudio.com/en-us/products/visual-studio-express-vs.aspx

  2. Brackets

    IDE ini lebih difokuskan untuk para pekerja Front End Developer. Tersedia di berbagai macam sistem operasi.

    http://brackets.io/

  3. Aptana

    Handal untuk bekerja secara menyeluruh: PHP-HTML-CSS-Javascript. Selain itu, Aptana dapat dijalankan di segala sistem operasi.

    http://www.aptana.com/

  1. Lightable

    Secara tampilan, mirip-mirip Brackets. Ringan juga. Juga tersedia di berbagai macam sistem operasi. 

    http://lighttable.com/

  1. Notepad++

    Ringan. Hanya untuk Windows.

    https://notepad-plus-plus.org/

Sebenarnya, berbicara masalah IDE untuk web tidak hanya lima software di atas. Tapi saya memang pernah mencoba kelima-lima nya. Bagi saya, setiap IDE punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Tinggal bagaimana ide karya kita mau dikembangkan.

Oiya, kelima software di atas gratis.🙂

Selamat mencoba.

“Jangan Dikanji, Nanti Ndak Jadi Siomay!”

Hehe hehe hehe…

Cerita Dari Rumah Tepi Sawah

begitulah kira-kira ucapan suami saya waktu saya bilang kalau obat biang keringat itu dibedaki kanji…

Jadi ceritanya Rasydan itu punya kulit sensitif. Kalau cuaca panas, kulitnya langsung ruam-ruam merah, bruntusan, dan saya pikir itu pasti gatel banget. Walaupun anak pinter ini nggak rewel, tapi tangannya sibuk garuk-garuk tangan dan kaki yang ruam merah itu. Anak bayi lain yang biasa pake minyak telon dan bedak biar wangi, tapi ibunya Rasydan cuma bernai ngasih minyak telon karena takut kalo dibedaki malah jadi nutup pori-pori dan nambah ruam.

Sudah berbagi cara kami tempuh. Mulai mandiin pakai Lactacyd Baby (nggak mempan, malah nambah ruam), mandi pakai PK (bubuk yang bikin air mandi jadi ungu, kalsium apaa gitu lupa kepanjangannya — nggak manjur), dan terakhir dikasih Caladine cair (belakangan malah baru tau kalau lagi ruam nggak boleh dikasih — nggak manjur juga). Bapaknya Rasydan sempat berpikir, jangan-jangan obatnya adalah hujan-hujanan *rada nyeleneh*. Saya sebenarnya nggak…

Lihat pos aslinya 666 kata lagi

Risk of Rain Demo

Setelah post kemaren, di webnya Risk of Rain ternyata disediakan versi demo (telat banget taunya, padahal gamenya udah lama dirilis).  Full udah support pakai gamepad juga. Alhasil, bisa deh ngerasain main Risk of Rain.

Skrinsut Risk of Rain

Skrinsut Risk of Rain

Skrinsut Risk of Rain

Skrinsut Risk of Rain

Versi demo ini hanya disediakan 2 hero. Commander sama Miner. Tapi memang kalau untuk pelepas penat, lumayan lah. Kalau mau versi lengkap, ya beli aja. Di steam ada. Gak nyampai 100 ribu. Jangan mbajak.😀

Memilih Dungeon of the Endless

Akhir bulan Februari saya iseng buka-buka youtube untuk liat orang main game. Sekarang banyak yang suka main game trus dikomentari  sambil direkam. Akhirnya saya tertarik pada beberapa game dengan model pixel-graphic.

Setelah berbagai macam game diyoutube, akhirnya tercengang melihat ‘Let’s Play’-nya Risk of Rain (RoR). RoR ini jenis game pixel-graphic dengan model roguelike – action game. Pada RoR, pemain memilih Hero dengan kemampuan dan skill yang berbeda untuk tiap Hero. Lalu di area permainan berupa 2D platformer, pemain harus menemukan sebuah Teleporter untuk berpindah ke level selanjutnya dengan area yang berbeda. Game ini semampusnya. Artinya, tidak ada batasan level. Tidak bisa disave, sekali mati ya sudah, ulang dari awal. Tapi, hero atau item yang sudah diunlock akan terbuka. Tingkat kesulitan game ini berbanding lurus dengan waktu, semakin lama akan semakin tambah sulit. Monster yang dilawan semakin kuat dan semakin banyak. Cocok buat pelepas penat sebenarnya.

Eh, tapi setelah itu kok saya tiba-tiba melirik Dungeon of the Endless. Pixel-graphic juga, rogue-likes juga, semacam RPG juga, tapi tidak terlalu action. Lebih ke microstrategi dan turn based. Ceritanya sederhana, keluar dari lantai minus 12 dari sebuah planet. Artinya ada 12 level pada tiap kali main yang harus diselesaikan dengan cara melindungi kristal dan memindahkannya hingga ke pintu keluar (lift). Ada unsur strategi juga. Pada setiap lantai kita dibekali bahan untuk membuat berbagai macam generator. Generator ini untuk membantu bertahan hidup, melindungi dar monster, dan untuk riset teknologi. Kalau kalah,

Dungeon of the Endless

 

Akhirnya memilih untuk membeli Dungeon of the Endless. So far, it’s fun.🙂